Samosir, SAA FUSI UIN Sumatera Utara – Mahasiswa Program Studi Studi Agama-Agama (SAA), Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI), Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU), melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “Ekoteologi untuk Generasi Z: Mengawal Kelestarian Alam Desa Sungkean” di Desa Sungkean, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Kegiatan ini diwujudkan melalui penanaman pohon dan aksi gotong royong membersihkan lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam di kawasan Danau Toba.

Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran ekologis generasi muda sekaligus memperkuat pemahaman bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual. Melalui pendekatan ekoteologi, mahasiswa diajak untuk menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan upaya nyata dalam menjaga keseimbangan alam.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan mahasiswa SAA, kepala desa, pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), serta masyarakat Desa Sungkean. Keterlibatan berbagai unsur tersebut mencerminkan semangat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kepedulian bersama terhadap lingkungan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dan penyampaian tujuan pengabdian kepada masyarakat. Selanjutnya, mahasiswa bersama pemerintah desa, pengurus BKM, dan warga melakukan penanaman bibit pohon mangga dan durian di lokasi yang telah ditentukan.
Pemilihan bibit mangga dan durian didasarkan pada manfaat ekologis dan ekonomis yang diharapkan dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Selain berpotensi menghasilkan buah yang bermanfaat bagi kebutuhan warga, pohon-pohon tersebut diharapkan dapat memberikan keteduhan serta mendukung penghijauan lingkungan.

Proses penanaman dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan partisipasi aktif seluruh peserta. Masyarakat setempat turut berbagi pengetahuan mengenai kondisi lahan dan cara merawat bibit agar dapat tumbuh dengan baik. Interaksi tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pengalaman dan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Setelah penanaman pohon, kegiatan dilanjutkan dengan aksi kebersihan lingkungan. Mahasiswa dan warga bersama-sama membersihkan area sekitar sebagai upaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman. Aksi ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kebiasaan menjaga kebersihan serta mengurangi perilaku membuang sampah sembarangan.
Tema ekoteologi yang diusung dalam kegiatan ini menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik dan ekologis, tetapi juga memiliki dimensi etika dan spiritual. Dalam perspektif keagamaan, alam merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Dalam ajaran Islam, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 30. Tanggung jawab tersebut menuntut manusia untuk mengelola alam secara bijaksana, bukan melakukan tindakan yang menyebabkan kerusakan. Sementara itu, surah Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut berkaitan dengan perbuatan manusia.
Nilai kepedulian terhadap lingkungan juga tercermin dalam hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan bahwa tanaman yang ditanam seorang muslim, kemudian dimanfaatkan oleh manusia, burung, atau hewan, bernilai sedekah baginya. Ajaran ini memperlihatkan bahwa menanam pohon bukan hanya tindakan yang bermanfaat secara ekologis, tetapi juga memiliki nilai ibadah dan kemanusiaan.
Selain itu, prinsip kebersihan dalam Islam menjadi landasan penting bagi pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, kegiatan membersihkan lingkungan merupakan salah satu bentuk penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bagian dari disiplin Studi Agama-Agama, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa kepedulian terhadap alam dapat menjadi titik temu berbagai tradisi agama dan kepercayaan. Nilai penghormatan terhadap alam, tanggung jawab manusia, dan pemeliharaan keseimbangan kehidupan dapat menjadi dasar untuk membangun kerja sama lintas agama dan budaya dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Melalui kegiatan pengabdian ini, mahasiswa SAA FUSI UIN Sumatera Utara diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman praktis dalam pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga mampu mengembangkan kesadaran kritis mengenai hubungan antara agama, manusia, dan lingkungan.
Penanaman pohon dan aksi kebersihan yang dilakukan di Desa Sungkean menjadi langkah sederhana yang membawa pesan penting bahwa pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Perubahan tidak selalu harus dimulai melalui program besar, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menanam pohon, merawat tanaman, menjaga kebersihan, dan membangun kebiasaan hidup yang ramah lingkungan.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan ruang penerapan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan nyata. Dengan semangat gotong royong dan pendekatan ekoteologi, mahasiswa dan masyarakat diharapkan dapat terus bersinergi dalam menjaga kelestarian lingkungan Desa Sungkean dan kawasan Danau Toba bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.
