Medan, SAA FUSI UIN Sumatera Utara – Pada hari Kamis, 29 Januari 2026, sebagai bagian dari program magang di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan, kami mahasiswa dari Jurusan Studi Agama-Agama, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) melaksanakan kunjungan observasi ke Gereja Methodist Indonesia (GMI) Kyunggi Patumbak. Kunjungan ini merupakan implementasi nyata dari studi lapangan kami untuk mengenal lebih dekat dinamika kehidupan beragama dan memperkuat tali silaturahmi antar-iman di Sumatera Utara.
Kehadiran kami disambut dengan penuh keramahan oleh pimpinan jemaat, Bapak Pdt. Sardinan Hutahuruk, M.Th. Sebagai mahasiswa Studi Agama-Agama, pertemuan ini menjadi ruang dialog yang sangat berharga. Dalam sesi wawancara, Pdt. Sardinan memaparkan bahwa jemaat GMI Kyunggi Patumbak saat ini terdiri dari sekitar 60 Kepala Keluarga (KK). Beliau menjelaskan bagaimana gereja ini terus berupaya menjadi wadah spiritual yang inklusif bagi komunitas di sekitar wilayah Patumbak.
Hal unik yang menjadi catatan kami adalah sejarah penamaan gereja tersebut. Bapak Pendeta menceritakan bahwa nama “Kyunggi” merupakan bentuk penghormatan dan apresiasi kepada donatur utama pembangunan gereja yang berasal dari Korea. Fakta ini memperlihatkan adanya jalinan solidaritas kemanusiaan lintas negara yang melatarbelakangi berdirinya rumah ibadah ini.
Selain itu, Pdt. Sardinan menekankan prinsip hidup yang sangat mendalam bagi warga jemaat GMI, yaitu slogan: “Alkitab di tangan kanan dan Disiplin di tangan kiri.” Bagi kami sebagai mahasiswa UINSU, nilai ini sangat menarik karena sejalan dengan konsep keseimbangan antara aspek ketuhanan (spiritualitas) dan aspek kemanusiaan (integritas/disiplin). Slogan tersebut menegaskan bahwa iman tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi harus termanifestasi dalam perilaku hidup yang tertib dan patuh pada aturan.
Kunjungan ini diakhiri dengan sesi dokumentasi di area altar gereja. Pengalaman ini memberikan perspektif baru bagi kami mahasiswa Studi Agama-Agama UINSU mengenai pentingnya memahami tradisi agama lain secara langsung. Informasi yang diperoleh dari Pdt. Sardinan Hutahuruk menjadi bahan laporan magang yang sangat kaya akan nilai toleransi dan disiplin organisasi keagamaan di Kota Medan.
