Medan, SAA FUSI UIN Sumatera Utara – Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) kembali menjadi pusat perhatian akademik regional setelah sukses menyelenggarakan International Conference on Malay–Islamic Civilization and Cultural Soft Power Strategy, Selasa 25 November 2025. Konferensi ini menjadi forum penting untuk membahas arah baru kebijakan geopolitik Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait pemanfaatan warisan Melayu–Islam sebagai sumber soft power kultural.
Salah satu sorotan utama konferensi adalah kehadiran Sekretaris Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) UINSU, yang tampil sebagai speaker internasional dan mendapat apresiasi dari Pimpinan Universitas. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa peradaban Melayu–Islam bukan hanya warisan budaya, tetapi juga instrumen strategis yang dapat memperkuat posisi Indonesia di tingkat regional maupun global.
Dalam Pemaparannya Fitriani menyampaikan “Warisan Melayu–Islam adalah modal geopolitik yang lahir dari sejarah panjang interaksi intelektual, perdagangan, dan keagamaan di kawasan Nusantara. Menghidupkan kembali identitas ini berarti memperluas jangkauan soft power Indonesia. Presiden Prabowo merespon dalam upayanya mengintegrasikan identitas Melayu–Islam pada narasi geopolitiknya dengan memanfaatkan tradisi, nilai agama, dan memori peradaban sebagai instrumen diplomasi dan pengaruh regional, sehingga menempatkan Indonesia sebagai pemimpin identitas serumpun di Asia Tenggara. Melalui pendekatan soft power budaya, Indonesia diperkuat untuk membangun hubungan strategis dengan negara dan komunitas serumpun seperti Malaysia, Brunei, Singapura, dan Patani. Dengan demikian, warisan peradaban Melayu–Islam tidak lagi dipandang sebagai simbol kultural semata, tetapi menjadi elemen penting dalam New Indonesian Geopolitical Doctrine yang menegaskan peran Indonesia sebagai pusat peradaban dan pengaruh Kawasan dalam menjalin Perdamaian Dunia”
Konferensi internasional ini menghadirkan akademisi dan peneliti dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand Selatan. Para peserta sepakat bahwa kebangkitan budaya Melayu–Islam selaras dengan visi Presiden Prabowo tentang diplomasi yang berbasis identitas dan solidaritas kawasan. Dalam konteks geopolitik Asia Tenggara yang semakin kompetitif, pendekatan cultural statecraft dipandang sebagai strategi diplomasi yang lebih halus namun efektif.
Rektor UINSU dalam sambutannya menyampaikan bahwa kepercayaan internasional terhadap UINSU semakin kuat, terlihat dari tingginya partisipasi akademisi mancanegara. “Paertisipasi Sekretaris Prodi SAA sebagai speaker internasional menunjukkan bahwa kapasitas ilmuwan lokal telah diakui di panggung global,” tegasnya.
Dalam konferensi Internaional, Sekretaris Prodi SAA UINSU juga menyoroti pentingnya penguatan pusat-pusat studi Melayu–Islam, digitalisasi manuskrip sejarah, serta pengembangan diplomasi budaya yang melibatkan perguruan tinggi, komunitas adat, dan lembaga-lembaga regional. Ia menekankan bahwa Sumatera Utara sebagai wilayah yang kaya tradisi Melayu–Islam harus mengambil peran utama dalam agenda nasional ini.
Konferensi internasional ini menegaskan komitmen UINSU untuk menjadi pusat keilmuan Melayu–Islam di Indonesia. Sementara itu, peran aktif akademisi seperti Sekretaris Prodi SAA di kancah internasional menunjukkan bahwa revitalisasi warisan peradaban bukan hanya agenda pemerintah, tetapi juga gerakan intelektual yang didorong dari ruang akademik.


